Meta saat ini tengah membangun data center, yang disebut Hyperion, yang diharapkan perusahaan akan memasok lab AI barunya dengan daya komputasi lima gigawatt (GW), kata CEO Mark Zuckerberg dalam posting Senin di Threads.
Pengumuman ini menandai langkah terbaru Meta untuk mengungguli OpenAI dan Google dalam persaingan AI. Setelah sebelumnya merekrut talenta-talenta terbaik untuk menjalankan Meta Superintelligence Lab, termasuk mantan CEO Scale AI, Alexandr Wang, dan mantan CEO Safe Superintelligence, Daniel Gross, Meta kini tampaknya mengalihkan perhatiannya ke daya komputasi besar yang dibutuhkan untuk melatih model-model AI yang belum berkembang.
Ketika Meta memilih lokasi di Louisiana untuk pusat data terbesarnya hingga saat ini , mereka menandatangani kesepakatan dengan Entergy untuk memasok daya ke lokasi tersebut dengan tiga pembangkit listrik tenaga gas alam raksasa. Kemarin malam, regulator negara bagian menyetujui rencana Entergy.
Pembangkit listrik ini diperkirakan akan beroperasi pada tahun 2028 dan 2029, dan dengan kapasitas penuh, akan menghasilkan listrik sebesar 2,25 gigawatt. Pusat data AI ini nantinya dapat menyerap daya sebesar 5 gigawatt seiring dengan perluasannya.
Demikian bunyi dua buah artikel yang diterbitkan techcrunch baru – baru ini. Sebuah berita yang tidak mengagetkan lagi mengingat datacenter AI memang sangat boros energi, data center membutuhkan daya listrik besar agar bisa menjalankan komputasi rumit yang mendukung output berbasis AI.
Hadirnya AI selain membawa dampak buruk di internet, juga menghadirkan kekhawatiran akan semakin buruknya iklim dunia dengan semakin besarnya emisi karbon yang dihasilkan. Data center milik meta di atas, ditenagai oleh pembangkit listrik tenaga gas yang notabene ikut menyumbang emisi karbon yang tidak sedikit.
Padahal yang membangun data center ini bukan hanya Meta, tetapi banyak perusahaan internet lain yang berlomba – lomba membangun data center di seluruh dunia untuk mendukung komputasi AI. Di Indonesia, Microsoft dan Google juga sudah membangunn data center untuk mendukung operasional mereka, terutama di asia tenggara.
Bisa dibayangkan, di satu sisi banyak pihak yang menyuarakan kekhawatiran akan dampak perubahan iklim (climate change). tetapi di sisi lain banyak yang “membakar karbon” untuk mendukung operasional bisnisnya. Seolah kekhawatiran akan perubahan iklim hanya slogan semata, karena banyak yang lebih mementingkan bisnis dari pada peduli pada perubahan iklim.
Seharusnya, perusahaan – perusahaan seperti ini harus membayar kompensasi untuk meredam dampak “pembakaran karbon” ini agar bisa dipakai untuk konservasi lingkungan akibat aktifitas mereka.
