Sebuah kalimat satire untuk fenomena content creator saat ini. Mendengar Farida Nurhan yang menjual akun youtube nya seharga 10 milyar dan Bobon Santoso yang menjaul akun Youtube nya seharga 20 milyar. Sebenarnya apa yang terjadi?
Menurut pengamatan penulis, yang terjadi adalah dunia sedang berubah dan akan selalu berubah menyesuaikan dengan jaman. Di saat internet masih tenderung berbasis teks dan gambar, Google Adsense (dan pasangannya, Adwords) merajai pasar iklan yang kemudian diikuti oleh sejumlah pihak, misalnya Bidvertiser, Adsterra dan lain – lain.
Kemudian kecepatan internet meningkat signifikan, sehingga konten video menjadi cukup relevan dan mendapatkan panggungnya, maka Youtube (Yang kemudian dibeli Google) mulai menggantikan, atau bahasa pasnya adalah menjadi pilihan (lebih baik) dari pada sekedar teks dan gambar untuk menampilkan iklan. Meskipun ada beberapa pihak yang mencoba untuk menyaingi youtube, tetapi sejauh ini masih gagal.
Era media sosial kemudian booming, muncullah facebook, tiktok, instagram. Trio ini meroket sebagai media sosial paling top. Ternyata tidak berhenti begitu saja, trio medsos ini ternyata mengikuti kebijakan Google pada Youtube yang bisa di-monetisasi. Dan yang paling sukses adalah tiktok dengan monetisasi video pendeknya.
Kembali kepada judul di atas, bahwa orang – orang yang membuat konten di paltform – platform di atas demi mendapatkan uang yang biasa disebut Content Creator, saat ini banyak menghadapi dilema. Antara terus atau berhenti dan mencari pendapatan lain selain konten. Dilema karena pendapatan sekarang ini cukup bersaing dengan pengeluaran. Artinya pendapatan yang diharapkan dari konten yang diproduksi nyaris sama dengan pengeluarannya.
Sekali lagi, dunia sedang dan akan terus berubah. Dunia konten juga demikian, berubah ke arah lebih baik? bisa ya bisa tidak. Banyak konten kreator pemula, bahkan belum pernah merasakan “uang” dari kontennya, terasa seperti layu sebelum berkembang. Karena ternyata memproduksi konten tidak semudah membalik telapak tangan, monetisasinya juga nyaris berjalan seperti siput, lamban dan hasil nya minim sekali. Galau tingkat dewa.
Untuk konten kreator besar, tentu saja mereka pernah merasakan masa “keemasan” dunia konten kreator ini, saat ini merasakan tekanan pendapatan juga. Konten kreator besar ini harus selalu membuat konten – konten baru yang dinamis dan kreatif, dari situ mereka harus bekerja dengan tim yang harus dibayar. DI sinilah ternyata pendapatan mereka bukan malah naik, justru sepinya medsos membuat pendapatan mereka menurun, sehingga sulit untuk bisa menutupi biaya operasional tim. Sehingga mereka pun galau, istilahnya layu setelah berkembang.
Belum lagi hadirnya konten kreator – konten kreator baru, entah hanya alasan coba – coba, nekat atau memang dibekali modal besar membuat pasar konten menjadi penuh sesak. Rejeki iklannya tidak berubah, tetapi rejeki ini harus dibagi – bagi dengan lebih banyak orang, sehingga tentu saja porsi pendapatannya jadi lebih rendah.
Nah, pada akhirnya kembali kepada pembaca, apakah akan meneruskan menjadi konten kreator atau tidak. Terserah anda. Kondisi pasarnya sudah sedemikian crowded, hanya yang konsisten yang akan bertahan.
