Di awal hadirnya www, memiliki website merupakan kebanggaan tersendiri, bahkan demi punya website, fitur – fitur gratisan atau website gratisan dikejar untuk eksistensi dunia maya, masih ingat Yahoo Geocities, Lycos dan sejenisnya begitu ramai penggunanya.
Website kemudian berkembang ke segala arah, mulai hanya untuk nampang di internet, menjadi sarana jual beli sampai sarana komunitas untuk saling berbagi informasi. Kehadiran sejumlah content management system membuat semakin mudah pembuatan website, dengan beberapa klik sudah jadi website sesuai dengan yang diinginkan.
Perkembangan sarana komunikasi yang semakin cepat dan beragam, memunculkan website interaktif dengan video dan animasi yang dipimpin oleh Youtube membuat website semakin menarik. Orang – orang mulai menampakkan diri (atau menonjolkan diri?) dengan foto dan video yang bisa dikomentari untuk interaksi lebih.
Kemudian media sosial menjadi tempat favorit untuk berbagai macam aktifitas, mulai curhat sampai memaki – maki orang lain dan pemerintah sudah menjadi pemandangan biasa dan sudah bukan hal aneh lagi. Bahkan aksi – aksi yang melibatkan massa biasanya juga diinisiasi lewat media sosial. Termasuk juga demo menentang pemerintah baru – baru ini juga diinisiasi melalui media sosial.
Kembali ke judul di atas, fungsi pembuatan website sekarang menjadi kurang relevan mengingat sudah banyak cara lain untuk mengekspresikan diri atau bahkan sampai berbisnis. Kalau dulu orang perlu membuat website untuk personal branding, sekarang sudah tidak perlu, personal branding dilakukan melalui media sosial. Membuat website untuk jualan juga sudah tidak laku, sudah ada marketplace meskipun harus berdarah – darah karena persaingan.
Untuk sektor pemerintahan, website sekarang untuk memenuhi kewajiban “transparansi”, melaporkan semua aktifitasnya kepada masyarakat sebagai pembayar pajak. Selebihnya, bagi pemerintah membuat website adalah “beban” sehingga tidak perlu bagus dan informatif, seadanya saja asal ada.
Untuk swasta, ini adalah tantangan. Ada beberapa pihak yang “harus” punya website agar brand-nya lebih dikenal, produk – produk baru yang dilaunching agar segera dikenal, meskipun transaksi dan lain – lain dilakukan melalui sarana lain. Website lebih banyak digunakan untuk mengenalkan produk, nama perusahaan jadi nomor sekian.
Contoh, perusahaan cat Avian, membuat website dengan nama avianbrands.com dari pada membuat website dengan nama atau mengambil nama “PT Avia Avian Tbk”. Bagi swasta, ternyata brand atau merk lebih penting dari pada nama perusahaan, oleh karena itu, website lebih sering digunakan untuk memblow-up merk atau brand. Untuk proses transaksi, bisa dilakukan dengan sarana lain, yang mungkin saja lebih aman dan private.
